Apa Itu Doomscrolling dan Mengapa Banyak Orang Mengalaminya
Jakarta – Kebiasaan doomscrolling atau terus menggulir media sosial untuk membaca berita negatif semakin meningkat dan menjadi perhatian banyak pihak. Fenomena ini terjadi ketika seseorang sulit berhenti membaca berita buruk meskipun hal itu memicu rasa cemas. Doomscrolling merujuk pada kebiasaan mengonsumsi informasi negatif secara berkelanjutan melalui ponsel, media sosial, atau platform berita.
Mengapa Orang Melakukan Doomscrolling?
Ada beberapa alasan yang membuat seseorang terus mencari dan membaca informasi negatif melalui doomscrolling.
- Ingin Mengetahui Perkembangan Terbaru: Saat terjadi peristiwa menegangkan, manusia cenderung mencari informasi untuk memahami situasi yang sedang terjadi. Namun, keinginan ini bisa berubah menjadi kebiasaan berlebihan apabila tidak terkendali.
- Rasa Takut Ketinggalan Informasi: Media sosial membuat informasi terus muncul tanpa henti. Orang yang ingin selalu up-to-date seringkali terjebak dalam siklus doomscrolling, di mana mereka terus mencari informasi tanpa henti meskipun sudah mendapatkan cukup informasi.
- Algoritma Platform: Platform digital menggunakan algoritma untuk menampilkan konten yang dianggap relevan dengan minat pengguna. Hal ini membuat pengguna terus terpapar konten negatif secara berulang.
- Merasa Lebih Siap Menghadapi Ancaman: Membaca informasi negatif bisa memberikan perasaan kesiapan menghadapi ancaman. Namun, jika tidak diikuti dengan tindakan nyata, hal ini justru bisa meningkatkan tekanan psikologis.
Dampak Doomscrolling
Doomscrolling dapat memiliki dampak berbeda pada setiap individu, namun penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media sosial berlebihan berkaitan dengan masalah kesehatan mental seperti depresi dan kecemasan. Terlalu sering terpapar berita negatif juga dapat meningkatkan rasa cemas, mengganggu suasana hati, serta mempengaruhi pola tidur seseorang.
Untuk mengurangi kebiasaan doomscrolling, penting untuk menetapkan batas waktu, menghindari membuka berita sebelum tidur, mematikan notifikasi yang tidak penting, memeriksa sumber informasi, menyeimbangkan informasi negatif dengan konten positif, dan menghentikan kebiasaan tersebut ketika mulai merasa semakin cemas. Doomscrolling bukan hanya sekadar kebiasaan membaca berita, tetapi juga mencerminkan dampak yang dapat berpengaruh pada kesehatan mental seseorang.


