Presiden Prabowo Subianto Soroti Aliran Modal Keluar sebagai Pemicu Pelemahan Rupiah
Jakarta – Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menyoroti dampak fenomena aliran modal ke luar negeri sebagai faktor utama yang menyebabkan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing dalam beberapa dekade terakhir.
Prabowo menyampaikan pandangannya dalam Penutupan Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2026 di Bangkalan, Jawa Timur.
Menurutnya, kebocoran kekayaan nasional yang terus mengalir ke luar negeri telah melemahkan ekonomi Indonesia. Ia memaknai kondisi ini sebagai “net outflow of national wealth”, yang menggambarkan dana investasi yang seharusnya menjadi sumber kesejahteraan dalam negeri justru berpindah ke luar wilayah Indonesia.
Keuntungan Neraca Perdagangan Tidak Tertahan di Dalam Negeri
Meskipun Indonesia mencatatkan keuntungan neraca perdagangan selama 17 tahun dari 22 tahun terakhir, Prabowo mengungkapkan bahwa sebagian besar dari keuntungan tersebut kembali dialirkan ke luar negeri oleh para pemilik modal. Hal ini menyebabkan dana riil yang ada di dalam negeri semakin berkurang.
Presiden Prabowo menegaskan tekadnya untuk merombak sistem ekonomi yang dianggap keliru demi melindungi kepentingan domestik sesuai amanah yang diemban. Ia menekankan bahwa kekayaan bangsa Indonesia seharusnya tetap berada di dalam negeri dan memberikan manfaat bagi masyarakat Indonesia secara langsung.
Rupiah Terus Terkikis dalam Dua Dekade Terakhir
Selama dua dekade terakhir, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus mengalami fluktuasi. Kondisi ekonomi global, pandemi COVID-19, dan konflik geopolitik dunia menciptakan tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Pada beberapa saat, rupiah bahkan mencapai level terendah di atas Rp18.000 per dolar AS.
Prabowo menegaskan kembali bahwa revitalisasi ekonomi Indonesia harus diutamakan untuk menjaga kedaulatan ekonomi negara dan memastikan kekayaan nasional benar-benar memberikan manfaat dalam negeri.


